Wednesday, June 15, 2011

Prestasi Anak atau Ambisi Orangtua?

Bila kita amati, sejak dini anak-anak telah dikenalkan dengan persaingan. Bentuknya pun beragam, mulai dari lomba, sayembara, kompetisi hingga olimpiade. Ini bertujuan agar anak memiliki mental kompetitif dan tidak gampang menyerah. Selain itu, sekolah pun tidak mau ketinggalan. Berbagai program disiapkan agar anak menjadi seorang pemenang.


Program teranyar yang dibuat oleh sekolah adalah RSBI atau Rintisan Sekolah Berstandar Internasional. Tidak sedikit orangtua yang berusaha untuk memasukkan anaknya ke dalam sekolah-sekolah dengan standar internasional. Mahalnya biaya tidak menjadi halangan.

Tanpa orangtua sadari, sikap ambisius orangtua seringkali membuat anak terkungkung dalam situasi yang menekan. Ambisi ini dapat berupa sikap menuntut anak untuk berprestasi pada suatu bidang. Tak jarang, bila anak gagal mencapai target, anak akan dianggap bodoh dan gagal. Kompensasinya, orangtua akan memarahi, “menghina”, atau menyindir. Selain itu anak akan diikutkan bimbingan belajar dan tambahan pelajaran agar tidak tertinggal.

Jam belajar yang sudah lama semakin bertambah panjang, 8 jam di sekolah masih harus ditambah beberapa jam lagi di luar sekolah. Situasi seperti ini, bisa jadi menekan bagi anak karena ia tidak punya kesempatan untuk bermain dan bersosialisasi. Anak tumbuh dalam ketakutan untuk gagal dan melakukan kesalahan.

Perasaan tersebut menjadi sebuah tekanan batin bagi anak. Bila anak terus merasa tertekan, berbagai kegiatan positif yang diikutkan orangtua akan menjadi momok. Bisa saja, anak akan membolos dan menggunakan berbagai alasan untuk menghindari kegiatan tersebut.

Jika sudah begini, impian untuk mendapat prestasi akademis yang baik tinggal menjadi kenangan. Motivasi berprestasi anak akan turun dan digantikan perasaan cemas serta takut gagal. Kondisi ini, membuat anak enggan mencoba meraih nilai cemerlang. Bukan tak mungkin, anak akan gagal meraih prestasi dan tak naik kelas
Tentu ini bukan akhir yang kita harapkan. Kita semua berharap bahwa anak akan memiliki prestasi cemerlang dan dapat menjadi kebanggaan orangtua. Bila perlu, anak dapat membawa nama bangsa ke ranah internasional. Untuk itu, orangtua perlu mendukung anak. Perhatian, keadaan lingkungan, menjaga kesehatan, serta asupan gizi menjadi salah satu penting untuk meraih kesuksesan.

Namun, yang perlu ditekankan adalah, orangtua perlu ingat, bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kemajuan anak. Bukan untuk ambisi atau obsesi pribadi. Jangan sampai anak merasa tertekan dan tidak nyaman dalam menjalani hidup. Biarkan mereka memilih apa yang terbaik bagi mereka.

Bila anak adalah anak panah, maka orangtua adalah busurnya. Tugas orangtua adalah memberikan dorongan serta mengarahkan, bukan memaksa!

Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Pentingnya Peran Ayah Dalam Fase Menyusui

Sudah bukan rahasia lagi, dalam proses menyusui, ibu adalah tokoh sentral dan dianggap satu-satunya figur penting. Sedangkan ayah berperan sebagai pencari nafkah agar bisa membeli berbagai kebutuhan si buah hati. Namun benarkah peran ayah hanyalah sebagai tulang punggung keluarga?


Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu, sebuah hal yang tabu kala ayah ikut membantu menggantikan popok, menceboki atau memandikan si kecil. Namun, sekarang jaman telah berubah. Peran Ayah pun bertambah. Seorang Ayah, harus siap membantu Ibu untuk merawat bayi dengan penuh kesadaran.

Jamak kita ketahui bahwa produksi Air Susu Ibu (ASI) erat kaitannya dengan kondisi batin ibu. Jika seorang ibu merasa cemas, tertekan dan takut ASI yang dihasilkan akan sedikit. Akibatnya, si kecil akan kekurangan ASI yang berujung pada kurangnya asupan gizi dan berdampak buruk pada pertumbuhannya. Walau pun ASI dapat diganti dengan susu formula, tetap saja ASI merupakan sumber gizi terbaik.

Keterlibatan ayah dapat dimulai saat Ibu menyusui si kecil. Proses menyusui ini akan menjadi sebuah ritual yang menyenangkan antara ibu, ayah dan si kecil. Ayah yang memperlihatkan kasih sayang dan perhatian penuh terhadap ibu dan si kecil akan membuat ibu merasa tenang dan terlindungi. Perasaan nyaman inilah yang membuat ibu termotivasi dan akibatnya, produksi ASI akan lancar dan berlimpah.

Di sinilah, ayah memegang peranan penting dalam proses menyusui. Figur ayah sebagai kepala dan pelindung keluarga akan membuat ibu merasa tidak sendirian saat merawat si kecil.

Selain saat menyusui, interaksi-interaksi yang dilakukan oleh ayah akan berbeda dengan yang dilakukan ibu. Bila ibu cenderung komunikatif sedangkan ayah berinteraksi dengan menggendong atau permainan fisik. Dari sisi perkembangan bayi, energi fisik yang besar milik ayah akan mengimbangi sentuhan lembut ibu. Perbedaan gaya inilah yang membuat si kecil kaya pengalaman. Dengan demikian, si kecil akan semakin cerdas dan semakin dekat dengan kedua orangtua.

Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Monday, June 13, 2011

Ragam Gaya Mengajar Guru

Guru merupakan tokoh utama paling bertanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan pendidikan pada siswa. Termasuk di dalamnya pembentukan daya kreasi siswa. Guru merupakan pemimpin kelas. Penunjuk jalan. Nakhoda yang akan membawa kemana siswa berkembang.



Sesuai dengan perannya, guru harus mampu memperlihatkan pentingnya mata pelajaran dan niat untuk belajar melalui sikap positif dan antusiasme pada saat mengajar. Dengan demikian, siswa akan ikut termotivasi serta mencontoh apa yang ditunjukkan oleh gurunya.

Mudahnya, gaya guru mengajar dapat dikatakan sebagai sebuah gaya kepimpinan. Menurut Hersey & Blanchard (1982), gaya kepemimpinan dapat dibagi menjadi empat dimensi, yaitu Telling, Selling, Participating dan Delegating.

1.Telling merupakan gaya kepemimpinan yang kurang mempercayai bawahannya dan banyak memberikan banyak instruksi kepada bawahannya. Gaya ini tidak terlalu memperdulikan bagaimana kualitas hubungan antara atasan dan bawahan.

2.Selling ditandai dengan tingginya tuntutan untuk menyelesaikan tugas, tetapi pemimpin juga memperhatikan bagaimana kualitas hubungan dengan bawahannya.

3.Participating ditunjukkan dengan pemimpin yang lebih menitikberatkan pada kualitas hubungan tapi kurang memperhatikan penyelesaian tugas-tugas.

4.Delegating adalah sebuah gaya memimpin yang memberikan kepercayaan tinggi kepada bawahan untuk melakukan tugas sendiri dengan pemberian sedikit arahan. Hanya saja, sedikit sekali hubungan personal diantaranya.

Tiap-tiap gaya kepemimpinan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga akan lebih bijak apabila seorang guru mampu mengkombinasikan beberapa gaya mengajar. Tidak hanya terlalu terpaku pada salah satu gaya mengajar. Karena guru merupakan sosok penting dalam mendidik dan membentuk karakter seorang murid.

Sumber :
http://www.psikologizone.com/ragam-gaya-mengajar-guru/065111770
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Sunday, June 12, 2011

Perlukah Seorang Anak Dibekali Ponsel?

       Saat ini, teknologi tidak lagi menjadi monopoli orang dewasa saja. Banyak anak-anak yang menggunakan iPad, Galaxy Tab, dan berbagai gadget canggih lain. Ponsel merupakan sebuah alat komunikasi yang praktis. Bisa dikatakan, saat ini, ponsel telah menjadi sebuah kebutuhan. Namun, apakah seorang anak benar-benar memerlukannya?

       Salah satu alasan anak dibelikan alat komunikasi ini adalah demi lancarnya komunikasi antara anak dan orangtua. Ini terjadi apabila orangtua merupakan pekerja yang sibuk dan jarang bertemu dengan anaknya di rumah. Hal ini dapat dipahami karena dengan ritme kerja yang padat, orangtua akan sulit dan jarang bertemu si anak. Hanya saja, perlu ada beberapa aturan yang ditekankan orangtua kala memutuskan untuk membelikan ponsel, antara lain:
1.Orangtua perlu menekankan bahwa anak dibelikan ponsel tidak digunakan untuk bergaya, melainkan agar mudah untuk berkomunikasi dengan orangtua.
2.Memberikan ponsel kepada anak, sama dengan memberi tanggung jawab kepada anak. Sehingga, perlu ada rasa memiliki dan menjaga pada anak.
3.Sebaiknya, jangan memberikan anak dengan kartu pasca bayar. Selain sulit untuk mengontrol, anak akan belajar untuk mengontrol. Ada baiknya, bila pulsa anak habis, orangtua tidak segera membelikan.
4.Kendati anak merengek untuk membeli ponsel canggih sebaiknya tidak langsung dituruti. Membekali anak, apalagi bila anak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), dengan ponsel canggih sama saja dengan mengundang tindak kriminal. Sebuah ponsel yang mudah digunakan untuk menelepon dan mengirim pesan singkat sebenarnya sudah cukup.
        Yang perlu disadari, orangtua mesti mendidik bagaimana bertanggung jawab dan menghargai sesuatu. Apakah seorang anak perlu dibekali dengan ponsel atau tidak, kembali kepada masing-masing orangtua.

Sumber :

http://www.psikologizone.com/perlukah-seorang-anak-dibekali-ponsel/065112041
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Friday, June 10, 2011

Belajar dari Sikap Baik Anak-anak

Di balik kepolosan dan tingkah lucunya, seorang anak memiliki sikap baik yang dapat kita jadikan bahan untuk belajar. Salah satunya, kala kita mengamati seorang anak yang dengan gigih berusaha agar bisa mengayuh sepeda. Atau, bagaimana kala si kecil berimajinasi sambil menata balok-balok kayu.
Berikut beberapa sifat baik yang dapat kita tiru dari si kecil:

1. Tekun. Kebanyakan anak kecil gigih dan tekun melakukan berbagai hal yang mereka sukai. Mereka tidak takut gagal karena mereka tidak paham makna kegagalan. Sedangkan kita, orang dewasa, seringkali takut gagal karena pengaruh lingkungan dan bayangan kita sendiri.
2. Tak kenal takut. Anak kecil tidak melihat sebuah tantangan yang ada di depan mereka sebagai sebuah hal yang menakutkan. Mulanya, mereka tidak takut anjing atau kecoak. Namun, kita dan televisilah yang mengajarkan mereka rasa takut.
3. Selalu ingin tahu. Seorang anak kecil biasanya dicap ceriwis kala terlalu bertanya pada orang yang lebih tua. Padahal, saat mereka bertanya, mereka sedang belajar. Belajar tentang dunia di sekitar mereka. Mereka mempelajari berbagai hal dari sudut pandang mereka. Mereka belajar sambil bermain. Ada baiknya, kita meniru anak kecil yang belajar dengan bersenang-senang.
4. Determinasi kuat. Pernah mencoba mengambil mainan yang dipegang seorang anak? Niscaya dia akan menangis, berteriak dan marah. Anak memiliki keinginan kuat dan tidak mau berkompromi kala memiliki suatu tujuan. Berbeda dengan orang dewasa yang terkadang masih mau berkompromi dan mencari pembenaran kala tujuannya tidak tercapai.
5. Pekerja keras. Anak-anak adalah pekerja keras sejati! Coba amati seorang anak yang sedang bermain balok. Ketika balok-balok kayunya jatuh, dia akan berusaha menata baloknya hingga mendapatkan bentuk yang diinginkan.
6. Tulus. Anak punya sikap tulus, menerima orangtua apa adanya. Walaupun orangtuanya adalah orang yang paling keras dan kasar sedunia.

Sebagai orang yang lebih dewasa, kadang kita perlu bercermin kepada anak-anak yang sedang bermain. Dulu, kita seperti mereka. Namun, seiring waktu dan banyaknya tuntutan, kita mulai berubah. Tak keliru bila kita belajar dari sifat baik mereka. Lalu, menjadi orang dewasa yang makin baik!
Sumber :
http://www.psikologizone.com/macam-kesulitan-belajar-siswa/065111779
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Friday, June 3, 2011

Macam Kesulitan Belajar Siswa

Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan. Namun, di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.

Kesulitan belajar siswa dapat ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis yang dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :

1. Learning disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya.
2. Learning disfunction adalah gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
3. Underachiever merupakan siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
4. Slow learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5. Learning disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/macam-kesulitan-belajar-siswa/065111779
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Thursday, June 2, 2011

Tips Cara Terbuka dengan Orangtua

Pada jaman sekarang ini banyak sekali himbauan bagi orangtua untuk lebih terbuka dengan anak-anak mereka. Bagaimana jika kita sendiri yang mempunyai inisiatif untuk terbuka dengan orangtua? Tidak sedikit, kita sebagai remaja cenderung untuk dekat dengan teman sebaya dari pada dengan orangtua kita.

Mengapa kita melakukan hal ini? Kebanyakan kita para remaja berpikir orangtua bisanya hanya menghujam, melarang dan mengomeli. Padahal semua orangtua tidak selamanya seperti apa yang dipikirkan kita pikirkan. Justru orangtua kita akan menyesal dan merasa gagal jika kita sebagai remaja hanya terbuka pada kekasih atau teman kita.

Kita sebagai remaja mungkin juga merasa canggung dan segan untuk bercerita dengan ayah atau ibu di rumah tentang masalah yang kita hadapi.

Bila kita ada masalah, kita mungkin akan memilih diam atau pergi dari rumah. Bahkan akan menjadi sangat buruk jika kita memutuskan bunuh diri hanya karena masalah yang sebenarnya bisa kita pecahkan.

Cara untuk lebih terbuka pada orangtua bisa kita lakukan dengan bersikap Asertif. Tujuan dari kita bersikap asertif adalah mengutarakan keinginan kita pada ayah dan ibu di rumah. Berikut adalah tips yang mungkin dapat membantu kita para remaja untuk lebih bersikap asertif (terbuka) dengan keluarga:

1. Percaya pada orangtua kalau mereka pasti akan membantu kita menyelesaikan masalah
2. Bila sulit dengan keduanya, tentukan manakah antara ayah atau ibu yang lebih dekat dengan kita.
3. Ketika kita berbicara dengan mereka, kenali perasaan orangtua
4. Ekspresikan masalah atau keinginan dengan jujur dan jelas
5. Berpikir positif ketika menghadapi masalah dengan orangtua
6. Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan orangtua pada kita sebelum menanggapi perkataan mereka.
7. Perlu sebuah komunikasi yang saling menghargai antara kita sebagai anak dan orangtua

Sumber :
http://www.psikologizone.com/tips-cara-terbuka-dengan-orangtua
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup panjang. Untuk tujuan pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya menggambarkan perkembangan dalam pengertian periode atau fase perkembangan.

Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan akhir anak anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa.

Perkiraan rata rata rentang usia menurut periode berikut ini memberi suatu gagasan umum kapan suatu periode mulai dan berakhir. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia:

Periode prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.

Masa bayi (infacy) ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.

Masa awal anak anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.

Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.

Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.

Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.

Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.

Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.

Sumber :
http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Ragam Definisi Kecanduan

Kecanduan dapat didefinisikan sebagai penggunaan zat psikoaktif atau substansi secara berulang-ulang, dan mengalami kesulitan untuk menghentikan penggunaan zat tersebut secara sukarela (Thyrer, 2008: 1).
Sedangkan Robert West menyatakan bahwa kecanduan adalah sebuah kondisi kronis dalam sistem motivasi dalam perilaku mencari hadiah (reward-seeking behaviour) telah menjadi lepas kendali (out of control) (Thyrer, 2008: 2).


Dalam ICD-10 (International Classification of Diseases), kecanduan dapat diartikan sebagai sebuah fenomena yang terdiri dari aspek perilaku, kognitif, dan psikologis yang berkembang setelah penggunaan suatu zat secara berulang-ulang. Termasuk keinginan kuat untuk memakai obat, kesulitan untuk mengontrol penggunaannya, menggunakannya secara terus-menerus walaupun tahu jika menyebabkan kerusakan pada tubuh, dan lebih memilih untuk menggunakan obat bila dibandingkan dengan aktivitas lain. (Thyrer, 2008: 3).
DSM-IV menjelaskan pengertian kecanduan sebagai kumpulan gejala yang mengindikasikan bahwa seseorang memiliki kesulitan untuk mengontrol penggunaan suatu sat dan meneruskan penggunaannya tanpa memerdulikan akibatnya (Thyrer, 2008:3).

Sedangkan Bowman, (2008 :6) menyatakan bahwa kecanduan atau adiksi dapat dibagi menjadi kecanduan terhadap suatu substansi (substance addiction) dan kecanduan terhadap proses (process addiction). Contoh substance addiction adalah kecanduan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan. Sedangkan process addiction merupakan kecanduan terhadap kecanduan terhadap sebuah aktivitas, seperti berjudi, belanja, makan dan melakukan hubungan seksual.

Sumber:
http://www.psikologizone.com/ragam-definisi-kecanduan

Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Aspek Lingkungan Dalam Perkembangan Anak

Masa anak anak adalah masa yang paling membahagiakan bagi kebanyakan orang. Karena pada masa itu, kita tidak mendapatkan tutntutan atau pun tetakanan sosial. Pada masa anak-anak, yang menjadi sebuah tugas utama adalah bermain sembari belajar. Kesenangan pada masa anak-anak, akan berlanjut hingga usia remaja dimana tanggung jawab mulai diperkenalkan dan dibebankan pada anak-anak.


Pada masa remaja inilah, seorang anak mulai dikenalkan dengan norma dan aturan yang berlaku di dunia nyata. Pada masa ini pulalah, seorang anak mulai menjelajahi dunia yang lebih luas. Hanya saja, dewasa ini, beberapa remaja di Indonesia mendapatkan sorotan lebih. Terdapat beberapa kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para remaja ini. Para anak-anak yang menginjak remaja ini melakukan pelecehan seksual kepada lawan jenis yang usianya tidak jauh berbeda.

Kesalahan yang dilakukan para remaja ini, dibebankan kepada orangtua masing-masing. Banyak pihak yang mengatakan bahwa kepribadian dari seorang remaja merupakan hasil didikan orangtua masing-masing. Hal ini dapat dibenarkan, namun alangkah lebih bijak jika faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana perkembangan kepribadian remaja dibahas satu persatu. Disini, penulis percaya bahwa perkembangan kepribadian remaja amat dipengaruhi oleh lingkungan.

Santrock menyatakan remaja merupakan masa transisi dimana akan banyak tekanan dan stres yang dialami oleh anak. Masa transisi ini ditandai dengan terjadinya pubertas pada anak. Bila pada perempuan ditandai dengan menarche (menstruasi) dan menumpuknya lemak pada beberapa bagian tubuh seperti panggul dan payudara. Sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah dan tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh seperti kumis dan janggut.

Baiknya, perubahan fisik ini disertai dengan pemberian pendidikan dan pengertian dari orangtua maupun guru. Beberapa kali penulis menemukan anak-anak perempuan yang mengalami kebingungan saat mengalami menstruasi untuk kali pertama. Mereka merasa asing dengan peristiwa yang mereka alami dan berusaha mencaritahu dengan bertanya kepada teman-teman sebayanya. Bila informasi yang diberikan benar, mungkin, tidak akan menjadi sebuah masalah. Hanya saja, terkadang, informasi yang diberikan oleh teman sebaya si anak belum tentu benar dan tepat.

Hal yang sama terjadi pada anak laki-laki. Beberapa teman penulis, menggambarkan ketika mendapat mimpi basah untuk pertama kali, mereka menggambarkan sedang bersetubuh dengan seorang wanita dan diakhiri dengan keluarnya sperma untuk pertama kalinya. Memang, mimpi ini sifatnya amat subjektif dan bisa jadi tidak semua laki-laki mengingat bagaimana mimpi basahnya untuk pertama kali.

Seringkali, setelah mengalami mimpi basah, anak tidak akan menceritakan kepada orangtuanya. Ini bisa disebabkan perasaan cemas atau takut dimarahi bila mereka menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka. Bisa juga, seorang anak akan malu dan sungkan untuk mengatakan bagaimana mimpi mereka.

Didorong rasa ingin tahu yang menggelora pada usia remaja, anak akan berusaha mencaritahu apa yang terjadi kepada diri mereka. Salah satu cara termudah adalah dengan bertanya kepada teman yang telah mengalami terlebih dahulu. Sekali lagi, muncul kekhawatiran penulis, tentang informasi yang diberikan oleh teman anak kurang benar dan kurang tepat. Sehingga menimbulkan pemahaman yang salah pada anak.

Cara lain yang seringkali dilakukan anak adalah dengan mencari di Internet. Sebuah cara yang mudah, sederhana dan praktis. Namun, seperti diketahui bersama, internet menyediakan beragam artikel dan gambar yang tidak diperuntukkan bagi anak / remaja seperti pornografi. Dan tidak bisa dipungkiri, sebagian besar anak / remaja di Indonesia telah mengakses materi-materi untuk dewasa tersebut.

Selain minimnya informasi yang dimiliki anak, lingkungan anak tinggal menjadi salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak dan remaja. Anak dan remaja cenderung akan meniru (modeling) figur yang dianggap penting dan berkesan. Figur ini belum tentu orangtua atau keluarga dekat si anak. Bisa saja, anak akan meniru salah satu teman yang sering dia lihat.

Walau tidak menutup kemungkinan anak akan meniru dari film atau komik. Atau bahkan anak akan mengembangkan tokoh fiksi yang ia bayangkan. Bila anak melihat film atau komik dimana tokoh utamanya melakukan pelecehan seksual, bisa jadi anak akan menganggap apa yang dilakukan idolannya benar dan meniru apa yang dilakukan.

Disini, dapat kita rasakan bahwa peran orangtua dan guru amatlah penting bagi perkembangan kepribadian anak. Orangtua merupakan pendidik dan pengajar pertama yang akan ditiru dan diikuti oleh anak.
Guru sendiri merupakan perwakilan orangtua anak ketika anak bersekolah. Guru memiliki kewajiban untuk membimbing dan membekali anak didiknya dengan ilmu dan moral. Guru juga berkewajiban utnuk mengingatkan, memotivasi dan memberi masukan selama anak berada di lingkungan sekolah.

Nah, apabila kita telah mengetahui perkembangan anak merupakan tanggung jawab bersama, maka akan jauh lebih baik apabila kita semua bekerja sama untuk membangun lingkungan yang kondusif sebagai tempat belajar anak-anak kita kelak.

Sumber :
http://www.psikologizone.com/aspek-lingkungan-dalam-perkembangan-anak
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Kemunculan Anak Indigo ke Dunia

Sebagian dari kita mengenal bahwa sebagian kecil anak terlahir sebagai indigo. Tapi, benarkah indigo itu ada dan sejak kapan fenomena ini mulai diketahui?



Anak-anak ini disebut anak-anak indigo karena mereka dianggap memiliki aura berwarna nila. Istilah anak indigo berasal dari sebuah buku oleh Nancy Ann Tappe pada tahun 1982, yaitu Understanding Your Life Through Color. Buku lain, The Indigo Children: The New Kids Have Tiba, ditulis oleh Carroll dan Tober yang terbit pad 1998 menyebutkan, diperkirakan sebesar 60% dari orang berusia 14 sampai 25 dan 97% dari anak di bawah 10 adalah “indigo”.

Selain indigo, mereka banyak sebutan lain untuk anak dengan kemampuan lebih ini, diantaranya Star Kids (karena mereka mengaku dari dunia lain), Crystalline Children (karena beberapa orang mengatakan mereka sangat berkembang), dan sebagainya. Tidak satu pun dari klaim ini dapat bertahan sebab fenomena ini tidak dikaji dalam penelitian objektif melalui pengamatan ilmiah.

Menurut College of Metaphysical Studies, banyak dari mereka dikenal dengan bermacam sebutan seperti Indigo Children, Children of the Blue Ray, Rainbow Children, Star Children, Millennium Children, the Crystalline Children. Apapun sebutannya, dari mereka kita mendengar cerita-cerita luar biasa dan bahkan mengejutkan.

Walau demikian, Bryn Mawr College mengungkapkan bahwa salah satu karakteristik yang sangat dikenal pada anak indigo, yakni memiliki hipersensitivitas. Menurut keyakinan New Age, anak-anak ini memiliki tingkat empati yang sangat tinggi, dan secara alami tertarik pada hal-hal tentang misteri, spiritualitas, paranormal, dan okultisme.

Anak-anak ini dianggap mewakili keadaan yang lebih tinggi dalam evolusi manusia, beberapa percaya bahwa mereka memiliki kemampuan seperti paranormal. Sementara yang membedakan anak indigo dengan yang lain dari segi konvensional adalah empati yang meningkat dan kreativitas yang tinggi.

Kritik terhadap fenomena indigo cukup sederhana. Kritikus, seperti psikolog Russell Barkley, mengatakan bahwa gerakan New Age yang mengatakan gerakan munculnya indigo dalam jumlah banyak belum menghasilkan bukti empiris keberadaan anak-anak indigo. Ciri-ciri yang mereka gunakan untuk menggambarkan mereka pun hanya terlihat samar dan tidak jelas.

Kritikan lain adalah bahwa anak-anak ini selaras dengan paranormal. Mungkin, mereka mendapatkan hal ini akibat dari menonton acara televisi dengan penekanan pada sihir, keajaiban, dan ramalan. Mereka mungkin menanggapi apa yang mereka lihat dalam televisi.

Program pendidikan bagi anak indigo telah dijelaskan oleh College of Metaphysical Studies, dimulai dengan berhenti memberikan label indigo pada anak-anak tertentu. Banyak orang telah mencoba untuk memberikan label pada anak-anak dengan sebutan anak indigo dan bangga dengan ini. Padahal, pemberian label akan membuat mereka masuk ke dalam kotak yang dapat membatasi kreativitas dan kemampuan untuk mencapai potensi yang terbesar.

Sumber :

http://www.psikologizone.com/kemunculan-anak-indigo-ke-dunia
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Monday, April 11, 2011

Nature dan Nurture, Mana yang Lebih Berpengaruh?

Kali ini kami akan membahas mengenai perdebatan tentang nature (bawaan sejak lahir) dan nurture (pengaruh lingkungan) terhadap perkembangan anak. Disini, kami mengambil contoh perkembangan kecerdasan anak walaupun dalam kenyataannya, kedua faktor itu mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan seorang manusia.


Sejak lama para ilmuwan telah berdebat mengenai pengaruh nature dan nurture dalam perkembangan anak. Perdebatan ini telah berlangsung selama berabad-abad. Para ilmuwan berdebat mana yang lebih dominan dan lebih punya andil dalam perkembangan anak.
Nature atau alam dapat dikaitkan dengan gen dan hereditas. Mulai dari warna rambut, kulit, dan mata hingga tingkat kecerdasan seorang anak. Banyak peneliti yang percaya bahwa tingkat kecerdasan seorang anak sangat dipengaruhi kecerdasan orangtuanya. Bila kedua orangtuanya memiliki kecerdasan diatas rata-rata maka seorang anak bisa dipastikan memiliki kecerdasan yang tinggi juga.
Hanya saja, mereka mengalami kesulitan kala menemui seorang anak yang berasal dari orangtua yang memiliki kecerdasan rata-rata tapi melahirkan anak dengan kemampuan yang brilian. Begitu juga sebaliknya, ada orangtua yang memiliki kecerdasan tinggi tapi anaknya tidak memiliki kecerdasan yang sebanding.
Beberapa peneliti yang tidak puas hanya dengan jawaban herediter atau bawaan memutuskan untuk meneliti bagaimana pengaruh lingkungan terhadap perkembangan seorang anak.
Nurture atau buatan, merupakan faktor-faktor dari lingkungan sekitar anak yang memiliki pengaruh terhadap perkembangannya. Faktor ini bisa berupa lingkungan, keluarga, teman-teman, sekolah dan apa pun yang ada dilingkungan si anak. Para peneliti berasumsi faktor belajar lah yang mempengaruhi bagaimana tingkat kecerdasan seorang anak.
Sering kita melihat, bagaimana orangtua memberikan les tambahan kepada anak agar si anak lebih mampu untuk menangkap pelajaran yang diberikan di sekolah atau lebih siap saat menghadapi ujian akhir. Pemberian perilaku tersebut merupakan suatu cara dengan memanipulasi lingkungan dengan harapan ada peningkatan kecerdasan anak.
Hanya saja, kami berpendapat kedua faktor, baik nature atau pun nurture memiliki pengaruhnya sendiri dalam perkembangan seorang anak. Kami memandang, segala yang berkaitan dengan nature adalah modal dapat dikembangkan dengan berbagai perlakuan yang akan diberikan oleh orangtua dan lingkungan sekitar anak. Bukankah dua lebih baik daripada satu? =)

Sumber Bacaan :

Life-Span Development. John W. Santrock.
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Fungsi Bermain Bagi si Kecil.

Kali ini, kami akan membahas mengenai fungsi bermain bagi anak-anak. Bermain dapat membantu anak-anak berkembang dengan pesat. Mengapa? Karena bermain memiliki kekuatan untuk membangun. Hal ini menimbulkan sebuah paradoks, bermain akan menghilang di lingkungan yang penuh tekanan (stressful) namun disisi lain, bermain akan menjadi sebuah sarana coping yang efektif untuk anak-anak.


Stress dan Konsekuensinya dalam Masa Kanak-kanak
Stres pada anak-anak merupakan sebuah hal yang normal dalam proses pertumbuhan. Seperti yang diungkapkan Freud, bahwa frustasi dan tantangan akan membantu anak-anak untuk menyeimbangkan id dan superego. Tidak jauh berbeda dengan Freud, Eriksson menjelaskan bahwa ada delapan krisis yang akan dilalui seseorang, 5 diantaranya adalah (basic trust vs mistrust, autonomy vs shame and doubt, initiative vs guilt, industry vs inferiority, dan identity vs role confusion). Sedangkan Piaget menyatakan bahwa anak-anak akan menggunakan perasaan tertekan mereka untuk mencari cara adaptasi yang baru.

Konsep Stres
Setelah beberapa dekade, banyak bukti yang menunjukkan bahwa pengalaman dan kejadian buruk dapat meningkatkan tingkat stres yang dapat menyebabkan psikopatologis pada anak-anak. Resiko yang signifikan juga terdapat pada kehilangan, perceraian dan menikah kembali, gangguan fisik yang kronis, bencana baik yang disebabkan oleh alam atau pun manusia, dan banyak lagi yang dapat menyebabkan gangguan psikologis untuk jangka panjang.
Namun, tidak setiap anak akan bereaksi dengan cara yang sama ketika menghadapi sebuah situasi yang menekan. Hal ini bergantung pada perbedaan individu (individual differences) serta bergantung pada usia, karakter anak dan bagaimana lingkungan mendukung untuk mengurangi atau menghilangkan level stresnya. Sebagai tambahan, banyak peneliti yang meyakini terdapat hubungan yang dinamis serta ada timbal balik antara lingkungan yang menekan (stressor) dan karakter anak.

Contoh Kondisi yang Menekan :
Rumah Sakit
Dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu bisa jadi akan sangat menekan untuk beberapa anak. Pengalaman seperti ini akan mengendap dalam waktu yang cukup lama dan menghasilkan kecemasan dan stres pada anak. Seringkali cukup sulit bagi anak untuk memisahkan efek antara dirawat di rumah sakit dan jauh dari rumah atau efek dari penyakit serta pengobatan yang dijalani itu sendiri.
Faktanya, beberapa variabel perlu diperhatikan lebih lanjut, seperti parah tidaknya penyakit yang diderita, lama tidaknya dirawat, dan bagaimana suasana di rumah sakit. Variabel yang penting lainnya adalah umur dari anak karena mereka akan membayangkan penyakitnya sesuai dengan umurnya.
Contoh :
• Jennifer, 5 tahun, lahir dengan kelainan jantung. Ia diharuskan untuk check-up ke dokter setiap tahunnya. Namun suatu ketika, saat dokter menempelkan stetoskop ke dadanya, dia berpikir bagaimana bila dokter tidak mendengar detak jantungnya dan dokter menyatakan bahwa dia telah mati. Akhirnya dia menolak untuk diperiksa.
• Di Tufts Educational Day Care Center, Band-Aids (sejenis pembalut luka/ hansaplast/ tensoplast) merupakan alat yang digunakan sehari-hari. Karena seringkali anak-anak melukai diri mereka sendiri. Anak-anak berpikir bahwa luka kecil di kulit mereka akan membuat semua hal di dalam tubuh mereka akan keluar dan mereka akan cemas. Dengan menggunakan Band-Aids, kecemasan tersebut dapat ditekan.

Ketika anak menjadi semakin besar dan mencapai pemikiran operasional konkrit, mereka menyadari bahwa penyebab dari penyakit yang mereka alami ada di dalam tubuh mereka namun, penyakit tersebut berasal dari luar. Tekanan yang mereka alami pun berubah. Mereka mulai berpikir tentang isu-isu yang berkaitan dengan isolasi, kehilangan kontrol, rasa sakit, mutilasi atau kematian.

Tempat Pengungsian
Anak-anak datang ke tempat pengungsian dengan beragam alasan. Memahami berbagai alasan anak-anak datang ke pengungsian akan membantu bagaimana reaksi mereka saat di tempat pengungsian dan kemampuan mereka untuk melakukan coping stress melalui permainan. Beberapa faktor penting yang harus dipahami adalah mengapa mereka mengungsi, bagaimana kondisi dan cara mereka mengungsi, berapa lama mereka akan mengungsi, bagaimana dukungan dari masyarakat lokal, bagaimana kondisi tempat pengungsian, dan lain sebagainya.
Namun, walau dengan kondisi tempat pengungsian yang memadai pun, anak-anak masih menunjukkan tanda-tanda stres. Diantaranya adalah anak-anak jarang bermain atau bermain dengan cara yang berbeda.

Jadi, itulah mengapa kita sebaiknya membiarkan anak-anak kita bermain dengan senang dan gembira =).

Sumber Bacaan :
Children’s Play
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Tuesday, April 5, 2011

Ciri-Ciri Anak Gifted

Kali ini kami akan membahas mengenai ciri-ciri dari anak yang berbakat atau gifted…



Renzulli, menyatakan bahwa Keberbakatan (giftedness), adalah kemampuan inteligensia berupa kemampuan logika analisis dan abstraksi tinggi, kreativitas tinggi, serta motivasi dan ketahanan kerja tinggi. Namun, banyak di antara mereka justru sulit berprestasi di sekolah.

Hal ini karena ia visual learner, selalu berpikir secara analisis, perfeksionis, dan kadang diikuti rasa percaya diri yang kurang, dan takut gagal sebelum mengerjakan tugas yang sebenarnya bisa dia kerjakan.
Malkito, 1980 menjelaskan beberapa cirri-ciri yang dimiliki oleh anak berbakat (gifted) adalah :
a. Intelektual/Belajar
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal..
b. Kreativitas
Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).
c. Motivasi
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya). Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal.
Ciri anak berbakat, perkembangannya secara merata di antara anak sebayanya, lebih cepat mengenal dan menggunakan kata-kata, konsentrasi belajarnya lebih panjang, lebih mudah mencari cara lain untuk memainkan sesuatu, mereka juga sangat baik dalam mengingat sesuatu yang pernah dipelajarinya. 14 ciri-ciri keberbakatan yang telah memiliki korelasi yang signifikan dengan tiga aspek tersebut (Balitbang Depdikbud, 1986):
1. Lancar Berbahasa (mampu mengutarakan pemikirannya);
2. Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan;
3. Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berpikir logis dan kritis;
4. Mampu belajar/bekerja secara mandiri;
5. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa);
6. Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya;
7. Cermat atau teliti dalam mengamati;
8. Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah;
9. Mempunyai minat luas;
10. Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;
11. Belajar dengan mudah dan cepat;
12. Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat;
13. Mampu berkonsentrasi; dan
14. Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.

Sumber Bacaan :
Scarlett, W. George., Naudeau, Sophie., Salonius-Paternak, Dorothy., Ponte, Iris. Childern’s Play. Tufts University

Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Sunday, April 3, 2011

Tahap Perkembangan Sigmund Freud

Kali ini kami akan membahas tentang tahap perkembangan dari Sigmund Freud. Freud adalah seorang psikiater yang mengemukakan bahwa pengalaman masa kecil akan sangat berpengaruh pada perkembangan seorang anak. Freud juga mengungkapkan bahwa terdapat 5 tahapan penting bagi seorang anak. Tahapan – tahapan tersebut adalah :




1. Tahap oral yang berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan, dimana pada tahap ini titik kenikmatan terletak pada mulut. Dimana makan, minum, dan menelan merupakan aktivitas yang menjadi sumber kenikmatan. Kenikmatan diperoleh dari rangsangan terhadap bibir, rongga mulut serta kerongkongan.

Kenikmatan pada tahap ini dipandang sebagai gambaran dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang berlebihan pada tahap oral akan membentuk oral incorporation personality pada masa dewasa.

Oral incorporation personality adalah suatu kepribadian dimana seseorang senang untuk mengumpulkan pengetahuan atau harta benda. Bisa juga digambarkan sebagai seseorang yang gampang ditipu serta mudah menelan perkataan orang lain.

Sebaliknya, ketidakpuasan pada tahap oral akan menyebabkan oral aggression personality yang dapat ditandai dengan kesenangan berdebat dan sikap sarkastik. Kebiasaan merokok, menggigit pensil, mengunyah permen karet, menggunjing atau berkata – kata kotor merupakan dampak dari ketidakpuasan tahap oral.
2. Tahap anal yang berlangsung dari usia 18 bulan hingga 3 atau 4 tahun, dimana pada tahap ini titik kenikmatan terletak pada anus. Sepanjang tahap anal, bagaimana orangtua mengajarkan toilet training menjadi sebuah gambaran bagaimana masa depan anak dan hal ini berkaitan dengan perkembangan kepribadian anak.

Jika ibu terlampau keras, anak akan menahan feses dan mengalami sembelit. Ini merupakan gambaran tingkahlaku keras kepala dan kikir atau bisa disebut anal retentiveness personality.

Sebaliknya jika ibu tidak mengajarkan toilet training maka akan muncul sifat ketidakteraturan, destruktif, semaunya sendiri dan kejam (anal expulsiveness personality).

Apabila ibu membimbing dengan kasih sayang dan memuji kalau anak melakukan toilet training, anak akan mendapat pengertian bahwa mengeluarkan feses adalah aktivitas yang penting, gambaran dari sifat kreatif dan produktif.
3. Pada tahap phallic, alat kelamin merupakan daerah terpenting. Dan masturbasi merupakan aktivitas yang paling nikmat. Tahap phallic berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6, atau 7 tahun. Pada tahap phallic juga muncul Oedipus complex, yang diikuti castration anxiety (kecemasan akan dikebiri pada anak laki-laki) dan penis envy (kecemburuan pada penis pada anak perempuan).

Oedipus sendiri adalah kateksis obyek seksual kepada orangtua yang berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orangtua sejenis. Anak laki-laki ingin menyingkirkan ayahnya dan mendapatkan ibunya, dan begitu juga sebaliknya.
4. Tahap laten berlangsung dari usia 5, 6, atau 7 tahun sampai dengan usia pubertas (sekitar 12 tahun). Pada tahap ini Freud yakin bahwa rangsangan seksual ditekan dengan sedemikian rupa demi proses belajar. Pada tahap ini, anak mengganti kepuasan libido dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang atletik, intelektual, ketrampilan dan hubungan teman sebaya.
5. Tahap genital dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangatlah jelas terlihat pada diri remaja. Fase ini berlanjut hingga seseorang mati.
Sumber bacaan :
Psikologi Kepribadian, Alwisol.
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Thursday, March 31, 2011

Cerebral Palsy

Kali ini, kami akan membahas tentang Cerebral Palsy atau sering disingkat CP.
Cerebral Palsy adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada otak yang terjadi selama kelahiran atau pada masa anak – anak. Hingga kini, belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Namun, dengan terapi atau bahkan melakukan operasi dapat membantu anak – anak dengan Cerebral Palsy.

Cerebral Palsy sendiri berpengaruh pada kontrol dan koordinasi otot sehingga untuk melakukan sebuah gerakan sederhana seperti berdiri tegak akan menjadi sebuah hal yang sulit dilakukan. CP juga berpengaruh pada kemampuan belajar, bicara, mendengar, dan mengunyah makanan. 1 hal yang perlu diingat dari CP adalah, CP tidak akan bertambah buruk.
CP dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
  1. Spastis Cerebral Palsy
      Mengakibatkan kekakuan pada tubuh dan sulit untuk bergerak.
  1. Athetoid Cerebral Palsy
      Mengakibatkan gerakan – gerakan yang sulit dikontrol dan tidak           diinginkan.
  1. Ataxic Cerebral Palsy
      Menyebabkan gangguan keseimbangan dan gangguan persepsi.
Penyebab utama dari Cerebral Palsy sebenarnya belum diketahui, tapi kebanyakan kasus CP disebabkan oleh adanya masalah selama mengandung dimana terjadi trauma pada otak janin atau otak janin tidak berkembang secara optimal.  Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi, virus, atau apapun yang berhubungan dengan perkembangan otak janin.
Penyebab lain dari CP adalah kelahiran yang belum saatnya (premature), dimana bayi dengan berat 1,510 gram akan lebih berpeluang untuk terkena CP dibandingkan bayi yang lahir setelah 9 bulan. Namun, walaupun bayi lahir dalam jangka waktu normal tapi bila kembar 2 atau 3 dan memiliki berat badan yang rendah, tetap akan memiliki resiko terkena CP.
CP juga bisa menyerang anak-anak, remaja atau bahkan orang dewasa. Pada kasus keracunan yang parah, terkena meningitis (radang otak), atau kurang gizi, bisa berakibat pada CP. Kecelakaan dengan trauma pada kepala pun bisa menyebabkan CP.
Lalu bagaimana cara pencegahannya?
Sebenarnya cukup sederhana. Kita bisa mencegah CP dengan cara menjaga kesehatan selama periode kehamilan. Makan makanan yang bergizi serta melakukan diet dengan tepat dapat menurunkan resiko CP. Selain itu, menjaga kandungan agar tidak terbentur juga wajib dilakukan. Setelah bayi lahir dengan selamar, JANGAN PERNAH menggoyang bayi dengan keras karena hal ini juga dapat menyebabkan CP. Bila membawa bayi dalam perjalanan ada baiknya menjaga keamanan kepala dan menjaga posisi duduk yang nyaman bagi bayi. Ingat, untuk mengimunisasi bayi secara teratur.
Bila seorang anak hingga usia tertentu sulit untuk bergerak, berbicara, mendengar, dan mengalami gangguan perkembangan bisa jadi anak tersebut terindikasi CP. Namun, untuk diagnosa lebih lanjut, ada baiknya bila anak dibawa ke psikolog atau terapis yang benar-benar mengerti tanda-tanda CP.
Dan apabila anak benar-benar terkena CP, segera cari terapis yang bisa memberikan bantuan secara benar. Karena apabila telah ditangani sejak dini, seorang anak yang terkena CP bisa hidup secara mandiri.
Sekian dari kami, semoga informasi dari kami bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian…
Sampai berjumpa di tulisan berikutnya.
Sumber bacaan :
kidshealth.org
Baca selengkapnya Dunia si Kecil

Masa Sebelum Kelahiran si Kecil

Nah kali ini, kami akan membahas bagaimana perkembangan janin selama 9 bulan.

Pembentukan janin dimulai dari ketika jutaan sel sperma masuk kedalam saluran indung telur dan para sel sperma ini berkompetisi, karena umumnya hanya satu sel saja yang akan berhasil bergabung dengan sel telur (sel ovum). Proses penggabungan ini disebut dengan proses pembuahan (fertilization). Sel telur yang telah bergabung (dibuahi) dengan sel sperma disebut juga dengan zigot (zygote). Zigot ini akan melalui perjalanan selama 3 atau 4 hari melewati saluran indung telur ke dalam kandungan. Setelah berhasil mencapai kandungan, zigot akan memecah diri menjadi 12 hingga 16 sel.

Tahapan pra kelahiran sendiri dapat dibagi menjadi 3 periode, yaitu germinal, embryonis dan fetal.

Tahap Germinal
Merupakan tahap awal yang berlangsung selama 2 minggu pertama setelah pembuahan. Dalam tahap ini, melingkupi penciptaan zigot, pemecahan sel serta melekatnya zigot pada dinding kandungan. Seminggu setelah pembuahan, zigot yang pada awalnya hanya 1 sel akan berkembang menjadi 100 – 150 sel. Pemisahan sel pun dimulai ketika lapisan dalam dan lapisan luar organisme terbentuk.

Pada tahap ini, kita akan mengenal istilah Blactocyst yaitu lapisan dalam sel yang berkembang selam periode germinal. Sel – sel ini yang akan berkembang menjadi embrio. Selain Blactocyst, kita juga akan mengenal istilah Trophoblast yang berarti lapisan luar sel yang akan menyediakan gizi dan dukungan bagi embrio yang baru terbentuk.

Zigot sendiri melekat ke dinding kandungan 10 hari setelah pembuahan, peristiwa ini disebut dengan Implantation.

Tahap Embrionis
Pada tahap ini, angka pemisahan sel meningkat, sistem pendukung bagi sel terbentuk dan organ-organ mulai tampak. Tahap embrionis merupakan periode perkembangan prakelahiran yang terjadi dari 2 hingga 8 minggu setelah pembuahan.

Zigot yang melekat di dinding kandungan pada tahap germinal berubah menjadi embrio (embryo). Embrio memiliki 2 lapisan, yaitu :
Endoderm (lapisan dalam) yang berkembang menjadi sistem pencernaan dan pernafasan. Dan Ectoderm (lapisan paling luar) yang akan berkembang menjadi sistem syaraf, telinga, hidung, syaraf, mata (penerima sensor) dan kulit. Bagian tengah atau disebut dengan Mesoderm akan menjadi sistem peredaran, tulang, otot, sistem pembuangan, dan sistem reproduksi.

Ketika ketiga lapisan ini terbentuk, sistem dukungan kehidupan bagi embrio akan berkembang dengan cepat. Sistem ini meliputi ari – ari (placenta) dan tali pusar (umbilical cord).

Ari – ari adalah sebuah sistem dukungan kehidupan yang terdiri dari lapisan yang berbentuk piring dimana terdapat pembuluh darah dari ibu yang mengait pada anak, tapi tidak menyatu. Sedangkan tali pusar adalah suatu sistem dukungan kehidupan yang mengandung dua pembuluh nadi dan satu pembuluh vena, yang menghubungkan bayi dengan ari – ari. Melalui 2 sistem ini zat-zat makanan, udara, serta kotoran dari embrio berpindah dari ibu ke bayi dan begitu juga sebaliknya.

Embrio yang terbentuk ini terletak di amnion, yaitu sebuah keranjang atau amplop yang berisi cairan bening dimana embrio yang sedang berkembang mengapung. Amnion merupakan sistem dukungan kehidupan penting lainnya.

Seperti ari – ari dan tali pusar, amnion berkembang dari telur yang dibuahi. Bukan dari tubuh ibu sendiri. Saat usia 16 minggu, ginjal janin mulai memproduksi air kencing. Air kencing janin ini merupakan sumber utama cairan amnion hingga trisemester ketiga, ketika beberapa cairan dikerluarkan dari paru – paru oleh janin yang sedang tumbuh. Walau cairan ini meningkat 10 kali lipat dari usia 12 hingga 40 minggu kehamilan, cairan ini dipindah melalui berbagai cara seperti ditelan oleh janin, diserap tali pusar dan selaput yang menutup ari – ari. Cairan ini penting, karena menyediakan lingkungan yang suhu dan kelembabannya terkendali serta melindungi bayi dari guncangan.

Sebelum ibu mengetahui bahwa merek hamil, telah terjadi perkembangan penting embrio. Pada minggu ketiga, saluran syaraf (cikal bakal  tulang belakang) dan mata mulai terlihat. Pada minggu keempat, saluran kencing, kuncup lengan dan kaki mulai muncul. Bilik jantung pun mulai terbentuk dan pembuluh darah mulai naik ke permukaan.

Dari minggu kelima hingga kedelapan, lengan dan kaki mulai berpisah. Wajah pun mulai terbentuk, namun belum dapat dikenal. Bidang usus berkembang dan struktur wajah mulai tersusun bersama. Sedangkan pada usia 8 minggu, organisme yang sedang berkembang itu beratnya kira-kira 0.033 ons dan panjangnya hanya 1 inci.

Proses pembentukan organ yang berlangsung selama 2 bulan pertama tersebut disebut dengan organogenesis.

Tahap Fetal
Ini merupakan periode perkembangan prakelahiran terakhir. Periode ini berlangsung mulai 2 bulan setelah pembuahan dan pada umumnya berlangsung selam 7 bulan.


Secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut :


Trimester Pertama (3 Bulan Pertama)

0-4 minggu
4-8 minggu
12 minggu
Pertumbuhan Fetal
-Panjang kurang dari 0, 1 inci.
-Susunan tulang belakang, sistem syaraf, sistem usus, jantung dan paru-paru.
-Kantung amniotis membungkus seluruh tubuh.
-Disebut ovum.
-Panjang kurang dari 1 inci.
-Wajah, mata, telinga dan pucuk gigi sudah terbentuk tapi belum sempurna.
-Lengan dan kaki bergerak.
-Otak terbentuk.
-Jantung berdenyut.
-Disebut embryo.
-Panjang 3 inci.
-Lengan, kaki, jari dapat bergerak.
-Sidik jari muncul.
-Dapat tersenyum, merengut, mengisap, menelan.
-Jenis kelamin muncul.
-Bisa kencing.
-Disebut fetus.




Trimester Kedua (3 Bulan Pertengahan)

16 minggu
20 minggu
24 minggu
Pertumbuhan Fetal
-Panjang 5,5 inci
-Denyut jantung kuat.
-Kulit tipis
-Rambut halus (lanugo) diseluruh tubuh.
-Kuku terbentuk.
-Dapat berguling.
-Panjang 10 – 12 inci.
-Denyut dapat didengar dengan stetoskop.
-Mengisap ibu jari.
-Tersedak.
-Rambut, bulu mata, alis muncul.
-Panjang 11 – 14 inci.
-Kulit mengerut.
-Mata terbuka.
-Mampu memegang dengan kuat.






Trimester Pertama (3,5 Bulan Terakhir)

28  minggu
32 minggu
36 – 38 minggu
Pertumbuhan Fetal
-Panjang 14 – 17 inci.
-Lemak tubuh bertambah.
-Sangat aktif.
-Gerak napas muncul.
- Panjang 16 – 18 inci.
-Bisa tidur dan bangun.
-Berada pada posisi lahir.
-Tulang kepala lembut dan lentur.
-Zat besi disimpan dalam hati.
-Panjang 19 inci.
-Kulit kurang mengkerut.
-Lanugo umumnya hilang.
-Kurang aktif.
-Memperoleh kekebalan dari ibu.



Sekian dari kami, semoga informasi dari kami bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian…
Sampai berjumpa di tulisan berikutnya.


Sumber bacaan :

Life-Span Development. John W. Santrock.
Baca selengkapnya Dunia si Kecil