Pada jaman sekarang ini banyak sekali himbauan bagi orangtua untuk lebih terbuka dengan anak-anak mereka. Bagaimana jika kita sendiri yang mempunyai inisiatif untuk terbuka dengan orangtua? Tidak sedikit, kita sebagai remaja cenderung untuk dekat dengan teman sebaya dari pada dengan orangtua kita.
Mengapa kita melakukan hal ini? Kebanyakan kita para remaja berpikir orangtua bisanya hanya menghujam, melarang dan mengomeli. Padahal semua orangtua tidak selamanya seperti apa yang dipikirkan kita pikirkan. Justru orangtua kita akan menyesal dan merasa gagal jika kita sebagai remaja hanya terbuka pada kekasih atau teman kita.
Kita sebagai remaja mungkin juga merasa canggung dan segan untuk bercerita dengan ayah atau ibu di rumah tentang masalah yang kita hadapi.
Bila kita ada masalah, kita mungkin akan memilih diam atau pergi dari rumah. Bahkan akan menjadi sangat buruk jika kita memutuskan bunuh diri hanya karena masalah yang sebenarnya bisa kita pecahkan.
Cara untuk lebih terbuka pada orangtua bisa kita lakukan dengan bersikap Asertif. Tujuan dari kita bersikap asertif adalah mengutarakan keinginan kita pada ayah dan ibu di rumah. Berikut adalah tips yang mungkin dapat membantu kita para remaja untuk lebih bersikap asertif (terbuka) dengan keluarga:
1. Percaya pada orangtua kalau mereka pasti akan membantu kita menyelesaikan masalah
2. Bila sulit dengan keduanya, tentukan manakah antara ayah atau ibu yang lebih dekat dengan kita.
3. Ketika kita berbicara dengan mereka, kenali perasaan orangtua
4. Ekspresikan masalah atau keinginan dengan jujur dan jelas
5. Berpikir positif ketika menghadapi masalah dengan orangtua
6. Dengarkan baik-baik apa yang dikatakan orangtua pada kita sebelum menanggapi perkataan mereka.
7. Perlu sebuah komunikasi yang saling menghargai antara kita sebagai anak dan orangtua
Sumber :
http://www.psikologizone.com/tips-cara-terbuka-dengan-orangtua
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Thursday, June 2, 2011
Tahap tahap perkembangan manusia memiliki fase yang cukup panjang. Untuk tujuan pengorganisasian dan pemahaman, kita umumnya menggambarkan perkembangan dalam pengertian periode atau fase perkembangan.
Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan akhir anak anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa.
Perkiraan rata rata rentang usia menurut periode berikut ini memberi suatu gagasan umum kapan suatu periode mulai dan berakhir. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia:
Periode prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.
Masa bayi (infacy) ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
Masa awal anak anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.
Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut: Periode pra kelahiran, masa bayi, masa awal anak anak, masa pertengahan dan akhir anak anak, masa remaja, masa awal dewasa, masa pertengahan dewasa dan masa akhir dewasa.
Perkiraan rata rata rentang usia menurut periode berikut ini memberi suatu gagasan umum kapan suatu periode mulai dan berakhir. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai pada setiap periode tahap tahap perkembangan manusia:
Periode prakelahiran (prenatal period) ialah saat dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal hingga menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku, yang dihasilkan kira kira dalam periode 9 bulan.
Masa bayi (infacy) ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial.
Masa awal anak anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun, periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak.
Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.
Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tugapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak.
Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir.
Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Ragam Definisi Kecanduan
Kecanduan dapat didefinisikan sebagai penggunaan zat psikoaktif atau substansi secara berulang-ulang, dan mengalami kesulitan untuk menghentikan penggunaan zat tersebut secara sukarela (Thyrer, 2008: 1).
Sedangkan Robert West menyatakan bahwa kecanduan adalah sebuah kondisi kronis dalam sistem motivasi dalam perilaku mencari hadiah (reward-seeking behaviour) telah menjadi lepas kendali (out of control) (Thyrer, 2008: 2).
Dalam ICD-10 (International Classification of Diseases), kecanduan dapat diartikan sebagai sebuah fenomena yang terdiri dari aspek perilaku, kognitif, dan psikologis yang berkembang setelah penggunaan suatu zat secara berulang-ulang. Termasuk keinginan kuat untuk memakai obat, kesulitan untuk mengontrol penggunaannya, menggunakannya secara terus-menerus walaupun tahu jika menyebabkan kerusakan pada tubuh, dan lebih memilih untuk menggunakan obat bila dibandingkan dengan aktivitas lain. (Thyrer, 2008: 3).
DSM-IV menjelaskan pengertian kecanduan sebagai kumpulan gejala yang mengindikasikan bahwa seseorang memiliki kesulitan untuk mengontrol penggunaan suatu sat dan meneruskan penggunaannya tanpa memerdulikan akibatnya (Thyrer, 2008:3).
Sedangkan Bowman, (2008 :6) menyatakan bahwa kecanduan atau adiksi dapat dibagi menjadi kecanduan terhadap suatu substansi (substance addiction) dan kecanduan terhadap proses (process addiction). Contoh substance addiction adalah kecanduan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan. Sedangkan process addiction merupakan kecanduan terhadap kecanduan terhadap sebuah aktivitas, seperti berjudi, belanja, makan dan melakukan hubungan seksual.
Sumber:
http://www.psikologizone.com/ragam-definisi-kecanduan
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Sedangkan Robert West menyatakan bahwa kecanduan adalah sebuah kondisi kronis dalam sistem motivasi dalam perilaku mencari hadiah (reward-seeking behaviour) telah menjadi lepas kendali (out of control) (Thyrer, 2008: 2).
Dalam ICD-10 (International Classification of Diseases), kecanduan dapat diartikan sebagai sebuah fenomena yang terdiri dari aspek perilaku, kognitif, dan psikologis yang berkembang setelah penggunaan suatu zat secara berulang-ulang. Termasuk keinginan kuat untuk memakai obat, kesulitan untuk mengontrol penggunaannya, menggunakannya secara terus-menerus walaupun tahu jika menyebabkan kerusakan pada tubuh, dan lebih memilih untuk menggunakan obat bila dibandingkan dengan aktivitas lain. (Thyrer, 2008: 3).
DSM-IV menjelaskan pengertian kecanduan sebagai kumpulan gejala yang mengindikasikan bahwa seseorang memiliki kesulitan untuk mengontrol penggunaan suatu sat dan meneruskan penggunaannya tanpa memerdulikan akibatnya (Thyrer, 2008:3).
Sedangkan Bowman, (2008 :6) menyatakan bahwa kecanduan atau adiksi dapat dibagi menjadi kecanduan terhadap suatu substansi (substance addiction) dan kecanduan terhadap proses (process addiction). Contoh substance addiction adalah kecanduan terhadap rokok, alkohol, dan obat-obatan. Sedangkan process addiction merupakan kecanduan terhadap kecanduan terhadap sebuah aktivitas, seperti berjudi, belanja, makan dan melakukan hubungan seksual.
Sumber:
http://www.psikologizone.com/ragam-definisi-kecanduan
Kategori :
adiktif,
arti kecanduan,
definisi kecanduan,
kecanduan
Aspek Lingkungan Dalam Perkembangan Anak
Masa anak anak adalah masa yang paling membahagiakan bagi kebanyakan orang. Karena pada masa itu, kita tidak mendapatkan tutntutan atau pun tetakanan sosial. Pada masa anak-anak, yang menjadi sebuah tugas utama adalah bermain sembari belajar. Kesenangan pada masa anak-anak, akan berlanjut hingga usia remaja dimana tanggung jawab mulai diperkenalkan dan dibebankan pada anak-anak.
Pada masa remaja inilah, seorang anak mulai dikenalkan dengan norma dan aturan yang berlaku di dunia nyata. Pada masa ini pulalah, seorang anak mulai menjelajahi dunia yang lebih luas. Hanya saja, dewasa ini, beberapa remaja di Indonesia mendapatkan sorotan lebih. Terdapat beberapa kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para remaja ini. Para anak-anak yang menginjak remaja ini melakukan pelecehan seksual kepada lawan jenis yang usianya tidak jauh berbeda.
Kesalahan yang dilakukan para remaja ini, dibebankan kepada orangtua masing-masing. Banyak pihak yang mengatakan bahwa kepribadian dari seorang remaja merupakan hasil didikan orangtua masing-masing. Hal ini dapat dibenarkan, namun alangkah lebih bijak jika faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana perkembangan kepribadian remaja dibahas satu persatu. Disini, penulis percaya bahwa perkembangan kepribadian remaja amat dipengaruhi oleh lingkungan.
Santrock menyatakan remaja merupakan masa transisi dimana akan banyak tekanan dan stres yang dialami oleh anak. Masa transisi ini ditandai dengan terjadinya pubertas pada anak. Bila pada perempuan ditandai dengan menarche (menstruasi) dan menumpuknya lemak pada beberapa bagian tubuh seperti panggul dan payudara. Sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah dan tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh seperti kumis dan janggut.
Baiknya, perubahan fisik ini disertai dengan pemberian pendidikan dan pengertian dari orangtua maupun guru. Beberapa kali penulis menemukan anak-anak perempuan yang mengalami kebingungan saat mengalami menstruasi untuk kali pertama. Mereka merasa asing dengan peristiwa yang mereka alami dan berusaha mencaritahu dengan bertanya kepada teman-teman sebayanya. Bila informasi yang diberikan benar, mungkin, tidak akan menjadi sebuah masalah. Hanya saja, terkadang, informasi yang diberikan oleh teman sebaya si anak belum tentu benar dan tepat.
Hal yang sama terjadi pada anak laki-laki. Beberapa teman penulis, menggambarkan ketika mendapat mimpi basah untuk pertama kali, mereka menggambarkan sedang bersetubuh dengan seorang wanita dan diakhiri dengan keluarnya sperma untuk pertama kalinya. Memang, mimpi ini sifatnya amat subjektif dan bisa jadi tidak semua laki-laki mengingat bagaimana mimpi basahnya untuk pertama kali.
Seringkali, setelah mengalami mimpi basah, anak tidak akan menceritakan kepada orangtuanya. Ini bisa disebabkan perasaan cemas atau takut dimarahi bila mereka menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka. Bisa juga, seorang anak akan malu dan sungkan untuk mengatakan bagaimana mimpi mereka.
Didorong rasa ingin tahu yang menggelora pada usia remaja, anak akan berusaha mencaritahu apa yang terjadi kepada diri mereka. Salah satu cara termudah adalah dengan bertanya kepada teman yang telah mengalami terlebih dahulu. Sekali lagi, muncul kekhawatiran penulis, tentang informasi yang diberikan oleh teman anak kurang benar dan kurang tepat. Sehingga menimbulkan pemahaman yang salah pada anak.
Cara lain yang seringkali dilakukan anak adalah dengan mencari di Internet. Sebuah cara yang mudah, sederhana dan praktis. Namun, seperti diketahui bersama, internet menyediakan beragam artikel dan gambar yang tidak diperuntukkan bagi anak / remaja seperti pornografi. Dan tidak bisa dipungkiri, sebagian besar anak / remaja di Indonesia telah mengakses materi-materi untuk dewasa tersebut.
Selain minimnya informasi yang dimiliki anak, lingkungan anak tinggal menjadi salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak dan remaja. Anak dan remaja cenderung akan meniru (modeling) figur yang dianggap penting dan berkesan. Figur ini belum tentu orangtua atau keluarga dekat si anak. Bisa saja, anak akan meniru salah satu teman yang sering dia lihat.
Walau tidak menutup kemungkinan anak akan meniru dari film atau komik. Atau bahkan anak akan mengembangkan tokoh fiksi yang ia bayangkan. Bila anak melihat film atau komik dimana tokoh utamanya melakukan pelecehan seksual, bisa jadi anak akan menganggap apa yang dilakukan idolannya benar dan meniru apa yang dilakukan.
Disini, dapat kita rasakan bahwa peran orangtua dan guru amatlah penting bagi perkembangan kepribadian anak. Orangtua merupakan pendidik dan pengajar pertama yang akan ditiru dan diikuti oleh anak.
Guru sendiri merupakan perwakilan orangtua anak ketika anak bersekolah. Guru memiliki kewajiban untuk membimbing dan membekali anak didiknya dengan ilmu dan moral. Guru juga berkewajiban utnuk mengingatkan, memotivasi dan memberi masukan selama anak berada di lingkungan sekolah.
Nah, apabila kita telah mengetahui perkembangan anak merupakan tanggung jawab bersama, maka akan jauh lebih baik apabila kita semua bekerja sama untuk membangun lingkungan yang kondusif sebagai tempat belajar anak-anak kita kelak.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/aspek-lingkungan-dalam-perkembangan-anak
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Pada masa remaja inilah, seorang anak mulai dikenalkan dengan norma dan aturan yang berlaku di dunia nyata. Pada masa ini pulalah, seorang anak mulai menjelajahi dunia yang lebih luas. Hanya saja, dewasa ini, beberapa remaja di Indonesia mendapatkan sorotan lebih. Terdapat beberapa kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh para remaja ini. Para anak-anak yang menginjak remaja ini melakukan pelecehan seksual kepada lawan jenis yang usianya tidak jauh berbeda.
Kesalahan yang dilakukan para remaja ini, dibebankan kepada orangtua masing-masing. Banyak pihak yang mengatakan bahwa kepribadian dari seorang remaja merupakan hasil didikan orangtua masing-masing. Hal ini dapat dibenarkan, namun alangkah lebih bijak jika faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana perkembangan kepribadian remaja dibahas satu persatu. Disini, penulis percaya bahwa perkembangan kepribadian remaja amat dipengaruhi oleh lingkungan.
Santrock menyatakan remaja merupakan masa transisi dimana akan banyak tekanan dan stres yang dialami oleh anak. Masa transisi ini ditandai dengan terjadinya pubertas pada anak. Bila pada perempuan ditandai dengan menarche (menstruasi) dan menumpuknya lemak pada beberapa bagian tubuh seperti panggul dan payudara. Sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah dan tumbuhnya rambut di beberapa bagian tubuh seperti kumis dan janggut.
Baiknya, perubahan fisik ini disertai dengan pemberian pendidikan dan pengertian dari orangtua maupun guru. Beberapa kali penulis menemukan anak-anak perempuan yang mengalami kebingungan saat mengalami menstruasi untuk kali pertama. Mereka merasa asing dengan peristiwa yang mereka alami dan berusaha mencaritahu dengan bertanya kepada teman-teman sebayanya. Bila informasi yang diberikan benar, mungkin, tidak akan menjadi sebuah masalah. Hanya saja, terkadang, informasi yang diberikan oleh teman sebaya si anak belum tentu benar dan tepat.
Hal yang sama terjadi pada anak laki-laki. Beberapa teman penulis, menggambarkan ketika mendapat mimpi basah untuk pertama kali, mereka menggambarkan sedang bersetubuh dengan seorang wanita dan diakhiri dengan keluarnya sperma untuk pertama kalinya. Memang, mimpi ini sifatnya amat subjektif dan bisa jadi tidak semua laki-laki mengingat bagaimana mimpi basahnya untuk pertama kali.
Seringkali, setelah mengalami mimpi basah, anak tidak akan menceritakan kepada orangtuanya. Ini bisa disebabkan perasaan cemas atau takut dimarahi bila mereka menceritakan apa yang telah terjadi pada mereka. Bisa juga, seorang anak akan malu dan sungkan untuk mengatakan bagaimana mimpi mereka.
Didorong rasa ingin tahu yang menggelora pada usia remaja, anak akan berusaha mencaritahu apa yang terjadi kepada diri mereka. Salah satu cara termudah adalah dengan bertanya kepada teman yang telah mengalami terlebih dahulu. Sekali lagi, muncul kekhawatiran penulis, tentang informasi yang diberikan oleh teman anak kurang benar dan kurang tepat. Sehingga menimbulkan pemahaman yang salah pada anak.
Cara lain yang seringkali dilakukan anak adalah dengan mencari di Internet. Sebuah cara yang mudah, sederhana dan praktis. Namun, seperti diketahui bersama, internet menyediakan beragam artikel dan gambar yang tidak diperuntukkan bagi anak / remaja seperti pornografi. Dan tidak bisa dipungkiri, sebagian besar anak / remaja di Indonesia telah mengakses materi-materi untuk dewasa tersebut.
Selain minimnya informasi yang dimiliki anak, lingkungan anak tinggal menjadi salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak dan remaja. Anak dan remaja cenderung akan meniru (modeling) figur yang dianggap penting dan berkesan. Figur ini belum tentu orangtua atau keluarga dekat si anak. Bisa saja, anak akan meniru salah satu teman yang sering dia lihat.
Walau tidak menutup kemungkinan anak akan meniru dari film atau komik. Atau bahkan anak akan mengembangkan tokoh fiksi yang ia bayangkan. Bila anak melihat film atau komik dimana tokoh utamanya melakukan pelecehan seksual, bisa jadi anak akan menganggap apa yang dilakukan idolannya benar dan meniru apa yang dilakukan.
Disini, dapat kita rasakan bahwa peran orangtua dan guru amatlah penting bagi perkembangan kepribadian anak. Orangtua merupakan pendidik dan pengajar pertama yang akan ditiru dan diikuti oleh anak.
Guru sendiri merupakan perwakilan orangtua anak ketika anak bersekolah. Guru memiliki kewajiban untuk membimbing dan membekali anak didiknya dengan ilmu dan moral. Guru juga berkewajiban utnuk mengingatkan, memotivasi dan memberi masukan selama anak berada di lingkungan sekolah.
Nah, apabila kita telah mengetahui perkembangan anak merupakan tanggung jawab bersama, maka akan jauh lebih baik apabila kita semua bekerja sama untuk membangun lingkungan yang kondusif sebagai tempat belajar anak-anak kita kelak.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/aspek-lingkungan-dalam-perkembangan-anak
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Kategori :
perkembangan anak,
psikologi,
psikologi anak,
psikologi perkembangan
Kemunculan Anak Indigo ke Dunia
Sebagian dari kita mengenal bahwa sebagian kecil anak terlahir sebagai indigo. Tapi, benarkah indigo itu ada dan sejak kapan fenomena ini mulai diketahui?
Anak-anak ini disebut anak-anak indigo karena mereka dianggap memiliki aura berwarna nila. Istilah anak indigo berasal dari sebuah buku oleh Nancy Ann Tappe pada tahun 1982, yaitu Understanding Your Life Through Color. Buku lain, The Indigo Children: The New Kids Have Tiba, ditulis oleh Carroll dan Tober yang terbit pad 1998 menyebutkan, diperkirakan sebesar 60% dari orang berusia 14 sampai 25 dan 97% dari anak di bawah 10 adalah “indigo”.
Selain indigo, mereka banyak sebutan lain untuk anak dengan kemampuan lebih ini, diantaranya Star Kids (karena mereka mengaku dari dunia lain), Crystalline Children (karena beberapa orang mengatakan mereka sangat berkembang), dan sebagainya. Tidak satu pun dari klaim ini dapat bertahan sebab fenomena ini tidak dikaji dalam penelitian objektif melalui pengamatan ilmiah.
Menurut College of Metaphysical Studies, banyak dari mereka dikenal dengan bermacam sebutan seperti Indigo Children, Children of the Blue Ray, Rainbow Children, Star Children, Millennium Children, the Crystalline Children. Apapun sebutannya, dari mereka kita mendengar cerita-cerita luar biasa dan bahkan mengejutkan.
Walau demikian, Bryn Mawr College mengungkapkan bahwa salah satu karakteristik yang sangat dikenal pada anak indigo, yakni memiliki hipersensitivitas. Menurut keyakinan New Age, anak-anak ini memiliki tingkat empati yang sangat tinggi, dan secara alami tertarik pada hal-hal tentang misteri, spiritualitas, paranormal, dan okultisme.
Anak-anak ini dianggap mewakili keadaan yang lebih tinggi dalam evolusi manusia, beberapa percaya bahwa mereka memiliki kemampuan seperti paranormal. Sementara yang membedakan anak indigo dengan yang lain dari segi konvensional adalah empati yang meningkat dan kreativitas yang tinggi.
Kritik terhadap fenomena indigo cukup sederhana. Kritikus, seperti psikolog Russell Barkley, mengatakan bahwa gerakan New Age yang mengatakan gerakan munculnya indigo dalam jumlah banyak belum menghasilkan bukti empiris keberadaan anak-anak indigo. Ciri-ciri yang mereka gunakan untuk menggambarkan mereka pun hanya terlihat samar dan tidak jelas.
Kritikan lain adalah bahwa anak-anak ini selaras dengan paranormal. Mungkin, mereka mendapatkan hal ini akibat dari menonton acara televisi dengan penekanan pada sihir, keajaiban, dan ramalan. Mereka mungkin menanggapi apa yang mereka lihat dalam televisi.
Program pendidikan bagi anak indigo telah dijelaskan oleh College of Metaphysical Studies, dimulai dengan berhenti memberikan label indigo pada anak-anak tertentu. Banyak orang telah mencoba untuk memberikan label pada anak-anak dengan sebutan anak indigo dan bangga dengan ini. Padahal, pemberian label akan membuat mereka masuk ke dalam kotak yang dapat membatasi kreativitas dan kemampuan untuk mencapai potensi yang terbesar.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/kemunculan-anak-indigo-ke-dunia
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Anak-anak ini disebut anak-anak indigo karena mereka dianggap memiliki aura berwarna nila. Istilah anak indigo berasal dari sebuah buku oleh Nancy Ann Tappe pada tahun 1982, yaitu Understanding Your Life Through Color. Buku lain, The Indigo Children: The New Kids Have Tiba, ditulis oleh Carroll dan Tober yang terbit pad 1998 menyebutkan, diperkirakan sebesar 60% dari orang berusia 14 sampai 25 dan 97% dari anak di bawah 10 adalah “indigo”.
Selain indigo, mereka banyak sebutan lain untuk anak dengan kemampuan lebih ini, diantaranya Star Kids (karena mereka mengaku dari dunia lain), Crystalline Children (karena beberapa orang mengatakan mereka sangat berkembang), dan sebagainya. Tidak satu pun dari klaim ini dapat bertahan sebab fenomena ini tidak dikaji dalam penelitian objektif melalui pengamatan ilmiah.
Menurut College of Metaphysical Studies, banyak dari mereka dikenal dengan bermacam sebutan seperti Indigo Children, Children of the Blue Ray, Rainbow Children, Star Children, Millennium Children, the Crystalline Children. Apapun sebutannya, dari mereka kita mendengar cerita-cerita luar biasa dan bahkan mengejutkan.
Walau demikian, Bryn Mawr College mengungkapkan bahwa salah satu karakteristik yang sangat dikenal pada anak indigo, yakni memiliki hipersensitivitas. Menurut keyakinan New Age, anak-anak ini memiliki tingkat empati yang sangat tinggi, dan secara alami tertarik pada hal-hal tentang misteri, spiritualitas, paranormal, dan okultisme.
Anak-anak ini dianggap mewakili keadaan yang lebih tinggi dalam evolusi manusia, beberapa percaya bahwa mereka memiliki kemampuan seperti paranormal. Sementara yang membedakan anak indigo dengan yang lain dari segi konvensional adalah empati yang meningkat dan kreativitas yang tinggi.
Kritik terhadap fenomena indigo cukup sederhana. Kritikus, seperti psikolog Russell Barkley, mengatakan bahwa gerakan New Age yang mengatakan gerakan munculnya indigo dalam jumlah banyak belum menghasilkan bukti empiris keberadaan anak-anak indigo. Ciri-ciri yang mereka gunakan untuk menggambarkan mereka pun hanya terlihat samar dan tidak jelas.
Kritikan lain adalah bahwa anak-anak ini selaras dengan paranormal. Mungkin, mereka mendapatkan hal ini akibat dari menonton acara televisi dengan penekanan pada sihir, keajaiban, dan ramalan. Mereka mungkin menanggapi apa yang mereka lihat dalam televisi.
Program pendidikan bagi anak indigo telah dijelaskan oleh College of Metaphysical Studies, dimulai dengan berhenti memberikan label indigo pada anak-anak tertentu. Banyak orang telah mencoba untuk memberikan label pada anak-anak dengan sebutan anak indigo dan bangga dengan ini. Padahal, pemberian label akan membuat mereka masuk ke dalam kotak yang dapat membatasi kreativitas dan kemampuan untuk mencapai potensi yang terbesar.
Sumber :
http://www.psikologizone.com/kemunculan-anak-indigo-ke-dunia
Baca selengkapnya Dunia si Kecil
Kategori :
anak indigo,
indigo,
mengenal anak indigo,
munculnya anak indigo
Subscribe to:
Posts (Atom)